gamblang, masyarakat
“disuguhi sesuatu” yang (seolah-olah) mengamini kondisi tersebut. Contoh
sederhana dapat dilihat ketika memasuki tahun ajaran baru. Tak terbayangkan
betapa banyaknya orang tua yang mengeluh akibat buku pelajaran yang digunakan
tahun ajaran sebelumnya tidak lagi dapat digunakan di tahun ajaran berikutnya.
Kondisi ini tentu sangat
memberatkan masyarakat yang sebagian besar masih hidup di bawah garis
kemiskinan. Siswa dipaksa menggunakan buku pelajaran baru sebagai pengganti
buku lama yang konon “tidak layak” dipakai acuan lagi, dengan harga yang
relatif tinggi. Padahal jika dicermati, materi atau pokok bahasan di dalamnya
sama persis, tanpa ada “ilmu”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar